Keren! HI-SCAN Buatan Mahasiswa Unesa Bisa Deteksi HIV Tanpa Ambil Darah
Surabaya, 16 Juli 2026 — Kemajuan teknologi di bidang kesehatan terus membuka peluang lahirnya berbagai inovasi yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan medis. Namun, di balik perkembangan tersebut, masih terdapat tantangan besar dalam upaya pengendalian Human Immunodeficiency Virus (HIV). Salah satunya adalah masih rendahnya minat masyarakat untuk melakukan pemeriksaan atau skrining HIV sejak dini.
Banyak orang belum berani menjalani tes HIV bukan semata karena sulitnya mengakses layanan kesehatan. Rasa takut terhadap prosedur pengambilan darah, kekhawatiran akan stigma yang masih melekat di masyarakat, hingga kurangnya pemahaman mengenai pentingnya mengetahui status kesehatan sejak awal menjadi beberapa faktor yang membuat sebagian orang memilih menunda bahkan menghindari pemeriksaan.
Padahal, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV yang dimilikinya, semakin besar peluang untuk memperoleh penanganan secara dini. Deteksi lebih awal memungkinkan terapi segera diberikan sehingga kualitas hidup dapat tetap terjaga sekaligus membantu menekan risiko penularan kepada orang lain. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan yang mampu membuat proses skrining terasa lebih nyaman sehingga masyarakat tidak lagi merasa ragu untuk melakukan pemeriksaan.
Berangkat dari persoalan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan sebuah inovasi bernama HI-SCAN. Inovasi ini dikembangkan sebagai alternatif deteksi dini HIV dengan pendekatan non-invasif, sehingga proses pemeriksaan tidak lagi bergantung pada pengambilan sampel darah seperti yang selama ini dikenal masyarakat.
HI-SCAN merupakan hasil kolaborasi lima mahasiswa Unesa, yaitu Fauzi Achmad, Reino Matabiyu Salaka, Firdausi Nuzula Aurellia Siswanti, Daniel Arnold Hasiholan Simanjuntak, dan Muhammad Zikri Kurniawan, di bawah bimbingan Rifqi Firmansyah, S.T., M.T., Ph.D. Melalui kolaborasi tersebut, mereka berupaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya mengedepankan aspek inovasi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan pengguna selama proses skrining.
Perbedaan utama HI-SCAN dibandingkan metode pemeriksaan yang umum digunakan terletak pada media sampel yang digunakan. Jika pemeriksaan HIV selama ini identik dengan pengambilan darah, HI-SCAN memanfaatkan sampel saliva atau air liur sebagai media deteksi. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi rasa takut yang selama ini menjadi salah satu alasan masyarakat enggan menjalani pemeriksaan.
Dengan menggunakan sampel saliva, proses skrining diharapkan menjadi lebih nyaman tanpa mengurangi tujuan utama pemeriksaan, yaitu mendeteksi kemungkinan infeksi HIV sedini mungkin. Pendekatan yang lebih ramah bagi pengguna ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak orang untuk bersedia memeriksakan diri secara sukarela.
Tidak hanya menghadirkan metode pemeriksaan yang berbeda, HI-SCAN juga menggabungkan teknologi biosensor berbasis Screen Printed Electrode (SPE) dengan Machine Learning. Integrasi kedua teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendeteksi antigen p24, yaitu salah satu biomarker yang muncul pada fase awal infeksi HIV.
Pemanfaatan biosensor dan machine learning tersebut diharapkan mampu menghasilkan proses skrining yang lebih cepat, praktis, dan efisien. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya menawarkan kenyamanan melalui penggunaan saliva, tetapi juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses analisis yang lebih efektif.
Bagi tim pengembang, lahirnya HI-SCAN tidak sekadar berangkat dari keinginan menciptakan teknologi baru. Inovasi ini muncul dari kepedulian terhadap masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan deteksi dini HIV. Selama pemeriksaan masih dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan atau menimbulkan rasa tidak nyaman, maka upaya menemukan kasus HIV pada tahap awal akan terus menghadapi berbagai kendala.
Karena itu, mereka menilai bahwa inovasi teknologi perlu dirancang dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna. Semakin sederhana dan nyaman proses pemeriksaan yang ditawarkan, semakin besar pula peluang masyarakat untuk bersedia melakukan skrining tanpa rasa takut maupun khawatir.
Pengembangan HI-SCAN juga menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui perpaduan ilmu rekayasa elektronika, teknologi biosensor, dan machine learning, penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada konsep akademik semata, tetapi diarahkan agar mampu memberikan manfaat nyata di bidang kesehatan.
Meski demikian, tim pengembang menyadari bahwa inovasi teknologi tidak dapat berdiri sendiri dalam upaya pengendalian HIV. Keberhasilan mengurangi jumlah kasus HIV tetap memerlukan dukungan dari berbagai aspek lain, mulai dari peningkatan edukasi kepada masyarakat, penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV, perluasan akses layanan kesehatan, hingga kolaborasi yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat secara luas.
Semua elemen tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. Teknologi dapat membantu mempermudah proses deteksi, tetapi kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan serta lingkungan yang mendukung tetap menjadi faktor penting agar upaya pengendalian HIV dapat berjalan lebih optimal.
Melalui HI-SCAN, tim berharap masyarakat mulai memandang pemeriksaan HIV sebagai langkah preventif yang mudah dilakukan dan tidak perlu ditakuti. Semakin banyak orang yang melakukan skrining sejak dini, semakin besar peluang untuk mengurangi keterlambatan diagnosis, meningkatkan keberhasilan terapi, serta memperkuat upaya pencegahan penularan di masa mendatang.
Pada akhirnya, HI-SCAN menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi yang lahir dari lingkungan perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan kesehatan di masyarakat. Tidak hanya menghadirkan pemanfaatan teknologi yang lebih modern, inovasi ini juga menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi dengan mengutamakan kenyamanan pengguna selama proses pemeriksaan.
Semangat kolaborasi yang ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Negeri Surabaya melalui pengembangan HI-SCAN diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung pengendalian HIV di Indonesia. Dengan terus menggabungkan inovasi, edukasi, dan kerja sama berbagai pihak, langkah menuju target Indonesia bebas HIV pada tahun 2030 diharapkan dapat semakin mendekati kenyataan.