Mending PC atau Laptop? Mending Cyberdeck! Mengulik Tren Rakit Cyberdeck Yang Tren Dikalangan Gen-Z.
Surabaya, 6 Juni 2026 — Bagi pecinta teknologi di Indonesia, perdebatan "mendang-mending" antara membeli laptop atau merakit personal computer (PC) desktop seolah menjadi ritual wajib yang tidak ada habisnya. Laptop menawarkan mobilitas tinggi namun seringkali mengorbankan performa dan aspek kustomisasi, sementara merakit PC desktop memberikan kebebasan mutlak dalam memilih komponen tetapi membuat penggunanya terpaku di satu meja kerja. Di tengah dilema klasik ini, muncul sebuah alternatif baru yang belakangan ini sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat di kalangan generasi Z (Gen Z), yaitu tren merakit komputer portabel kustom yang dikenal sebagai cyberdeck.
Bagi yang belum familier, cyberdeck adalah komputer portabel unik yang dirakit secara mandiri menggunakan komponen yang sering kali tidak serasi, mulai dari komputer papan tunggal (single-board computer) seperti Raspberry Pi, layar mini, baterai portabel, hingga papan ketik mekanis yang tebal. Berbeda dengan laptop pabrikan yang serba rapi dan tertutup, perangkat ini sengaja dirancang dengan kabel yang terekspos, bentuk yang asimetris, dan desain yang sangat personal. Hasil akhirnya adalah sebuah gawai bergaya retro-futuristik yang mustahil diproduksi secara massal karena setiap unitnya mencerminkan identitas, hobi, dan kebutuhan spesifik dari sang pembuat.
Inspirasi utama dari gerakan kreatif ini sebenarnya bukanlah barang baru, melainkan berakar dari novel fiksi ilmiah distopia legendaris karya William Gibson yang terbit pada tahun 1984, berjudul Neuromancer. Dalam novel tersebut, istilah cyberdeck digunakan untuk menggambarkan konsol komputer portabel berkemampuan tinggi yang dipakai oleh para peretas untuk menembus jaringan virtual global yang disebut sebagai cyberspace. Kini, puluhan tahun setelah novel tersebut memicu imajinasi dunia teknologi, para kreator Gen Z di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram berhasil menghidupkan kembali konsep fiksi tersebut menjadi perangkat nyata yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bernilai seni tinggi.
Lalu, apa yang membuat anak-anak muda zaman sekarang begitu terobsesi untuk merakit komputer mereka sendiri dari nol? Salah satu pemicu utamanya adalah rasa bosan yang mendalam terhadap status quo industri teknologi saat ini yang dinilai semakin monoton, seragam, dan terlalu berputar pada konsumerisme massal. Raksasa teknologi (Big Tech) terus memproduksi gawai-gawai tipis berwarna monokrom yang sulit diperbaiki secara mandiri, sekaligus mendorong pengguna untuk terus membeli model terbaru setiap tahun. Melalui gerakan cyberdecking, kreator Gen Z mengekspresikan penolakan mereka terhadap ekosistem komersial tersebut dengan memilih untuk menciptakan perangkat yang tidak didikte oleh tren pasar.
Selain kejenuhan terhadap desain fisik, tren ini juga tumbuh subur sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial yang semakin invasif. Di era dimana hampir setiap perangkat modern terus-menerus melacak perilaku pengguna, mengirimkan notifikasi tanpa henti, dan memaksakan pembaruan sistem yang tidak diinginkan, cyberdeck menawarkan kebebasan digital yang mutlak. Perangkat kustom ini sering kali dioptimalkan untuk menjalankan tugas-tugas spesifik saja. Seperti "writerdeck" yang sengaja dirancang tanpa koneksi internet agar penulis bisa fokus bekerja tanpa distraksi, hingga konsol game retro mandiri. Sehingga pengguna kembali memegang kendali penuh atas teknologi mereka.
Angin sejuk ini agaknya memberikan rasa empowerment bagi para peminat teknologi pemula karena metodenya yang sangat ramah lingkungan dan ekonomis. Alih-alih membeli perangkat keras baru yang mahal, para perakit memanfaatkan kreativitas mereka untuk mengolah suku cadang bekas (upcycling), menggunakan kembali casing lama, atau bahkan menjejalkan komponen komputer ke dalam wadah yang tidak biasa seperti kaleng permen Altoids, tas kosmetik, hingga bungkus fastfood. Membuktikan bahwa siapa saja, bahkan mereka yang tidak memiliki latar belakang teknik formal sekalipun, dapat belajar merakit komputer sendiri dan memberikan kehidupan baru pada limbah elektronik yang terbengkalai.
Meskipun cyberdecking mungkin tidak akan menggantikan peran praktis laptop atau ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat luas karena tingkat kesulitan perakitannya, gerakan ini membawa pesan budaya yang kuat. Ini adalah sebuah pengingat bahwa teknologi tidak harus selalu bersifat pasif, seragam, dan konsumtif. Di tangan Gen Z, merakit komputer telah bergeser dari sekadar hobi teknis menjadi bentuk seni, pernyataan politik antikorporasi, dan cara menyenangkan untuk membuat teknologi terasa lebih manusiawi serta menyenangkan untuk digunakan kembali.