Mengobrol Dengan Almarhum? Tren Perusahaan ‘Hantu Generatif’ Dan Pertanyaan Etis Dibaliknya.
Surabaya, 15 Juli 2026 — Rasa kehilangan selalu mendorong manusia sepanjang sejarah untuk melakukan berbagai cara agar tetap terhubung dengan mereka yang telah tiada. Mulai dari ritual adat kuno, praktik pemanggilan arwah, hingga penyimpanan barang peninggalan secara turun-temurun, manusia selalu mencari kenyamanan emosional di tengah kedukaan. Namun, di era digital saat ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) menawarkan metode baru yang dahulu hanya ada di ranah fiksi ilmiah, yaitu konsep "hantu generatif" (generative ghosts) atau yang sering disebut griefbots dan deathbots. Melalui pemanfaatan algoritma canggih, memori tentang mendiang tidak lagi disimpan secara statis dalam album foto, melainkan diubah menjadi entitas interaktif yang mampu mensimulasikan kehadiran serta gaya komunikasi orang yang telah meninggal secara real-time.
Kisah di balik perkembangan teknologi ini salah satunya diwakili oleh Jack Manning, seorang kandidat doktor ilmu informasi di University of Colorado Boulder yang memiliki motivasi personal mendalam. Setelah kehilangan saudara perempuannya akibat gangguan jantung saat mereka masih anak-anak, Manning merasakan sendiri besarnya upaya emosional dan waktu yang dibutuhkan keluarga untuk merawat ingatan tentang orang terkasih. Pengalaman masa kecil inilah yang mendorongnya untuk meneliti kegunaan model bahasa besar (LLM) dalam membantu proses pemulihan duka, mencoba mencari tahu bagaimana teknologi bisa membantu meringankan beban psikologis tersebut.
Bersama tim penelitinya, Manning melakukan eksperimen sosial dengan melibatkan belasan partisipan untuk mengobrol melalui Zoom dengan representasi AI dari mendiang keluarga mereka. Pada awalnya, ia menduga eksperimen ini akan terasa menakutkan atau aneh layaknya skenario dalam serial fiksi distopia Black Mirror. Namun, ia terbukti keliru karena para partisipan justru menganggap pengalaman tersebut luar biasa dan memberikan rasa damai serta titik penutupan emosional (closure) yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa pengguna sangat menyukai model "reinkarnasi"—di mana AI berbicara menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai mendiang—dan mereka cenderung memaafkan kesalahan fakta asalkan sistem mampu meniru nada suara, dialek, dan ritme percakapan mendiang dengan tepat.
Tren ini dengan cepat bergeser dari sekadar eksperimen akademis menjadi realitas komersial yang menjanjikan di pasar global. Berbagai perusahaan rintisan kini aktif menawarkan jasa keabadian digital dengan pendekatan teknologi dan model bisnis yang bervariasi. Platform seperti Project December dan Séance AI memfokuskan layanannya pada pembuatan simulasi berbasis teks menggunakan data pesan singkat atau catatan harian mendiang. Sementara itu, perusahaan seperti HereAfterAI mengintegrasikan foto dan rekaman suara, bahkan layanan premium Re;memory dari DeepBrain AI melangkah lebih jauh dengan melakukan wawancara visual 3D selama tujuh jam semasa hidup guna menghasilkan klon multimedia interaktif yang sangat realistis.
Meskipun menawarkan kenyamanan emosional bagi yang ditinggalkan, kehadiran hantu generatif ini memicu perdebatan etis yang sangat mendalam dari sudut pandang psikologis. Para ahli memperingatkan bahaya dilema "membeku dalam waktu" (frozen in time), di mana AI menyajikan versi mendiang yang statis dan tidak dapat berkembang seiring berjalannya waktu, sehingga berisiko menghambat proses berduka alami. Pengguna yang berada dalam kondisi mental rentan juga berisiko terjebak dalam hubungan parasosial yang adiktif dengan program komputer tersebut. Selain itu, keputusan untuk mematikan atau menghentikan layanan bot di kemudian hari berpotensi memicu rasa bersalah yang luar biasa, seolah-olah pengguna melakukan "pembunuhan" atau mengalami trauma "kematian kedua" dari orang terkasih mereka.
Sisi etis lain yang tidak kalah rumit berkaitan dengan aspek hukum, kepemilikan intelektual, dan kredibilitas operasional. Hingga saat ini, belum ada kejelasan hukum mengenai siapa yang berhak memiliki atau mengeksploitasi data digital seseorang setelah mereka meninggal dunia. Konflik internal keluarga juga berisiko pecah terkait siapa yang memegang "hak asuh" atas replika digital tersebut jika terjadi perselisihan. Dari sisi teknis, sifat AI generatif yang menyerupai "kotak hitam" membuat perilakunya sulit diprediksi secara utuh, sehingga risiko terjadinya kesalahan informasi (hallucination), manipulasi perilaku, hingga keluarnya respons yang tidak pantas dari AI dapat menambah trauma mendalam bagi keluarga yang tengah berduka.
Pada akhirnya, hantu generatif menyadarkan publik bahwa keintiman emosional tidak dapat ditawarkan tanpa risiko. Menyamakan perangkat lunak berbasis probabilitas statistik dengan cinta, kebijaksanaan, atau kepedulian sejati merupakan sebuah substitusi yang berbahaya bagi memori manusia yang autentik. Ketika industri kedukaan digital ini terus tumbuh, regulasi yang matang serta keterlibatan aktif dari para profesional kesehatan mental menjadi mutlak diperlukan demi memastikan bahwa inovasi yang diciptakan benar-benar berfungsi sebagai sarana penyembuh duka, bukan justru menjadi hantu digital yang menghantui kesehatan mental generasi mendatang.