Teknologi Nuklir BRIN Dilirik Thailand, Cyclotron Indonesia Dikembangkan untuk Produksi Radioisotop Medis
Surabaya, 2 September 2026 — Kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi nuklir kembali mendapat perhatian dari negara lain. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan Thailand Institute of Nuclear Technology (TINT) untuk mengembangkan teknologi 13 MeV DECY Cyclotron and Its Beam Line. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat penguasaan teknologi akselerator di kawasan Asia Tenggara.
Kerja sama ini tidak hanya berupa pertukaran pengetahuan, tetapi juga mencakup penelitian dan pengembangan prototipe cyclotron yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi radioisotop. Teknologi tersebut memiliki peran penting dalam bidang kesehatan karena radioisotop dapat digunakan untuk membantu proses diagnosis penyakit melalui teknologi kedokteran nuklir seperti Positron Emission Tomography (PET) scan.
Salah satu radioisotop yang menjadi perhatian adalah Fluor-18 (F-18). Radioisotop tersebut banyak digunakan dalam pemeriksaan PET scan untuk membantu tenaga medis memperoleh informasi mengenai kondisi tubuh pasien. Ketersediaan radioisotop secara domestik dinilai penting agar kebutuhan layanan kesehatan dapat dipenuhi dengan lebih cepat dan efisien.
Dalam pengembangan teknologi tersebut, BRIN memiliki fasilitas cyclotron yang terus dikembangkan, sementara TINT memiliki pengalaman dalam pengembangan beam line. Kolaborasi kedua lembaga tersebut memungkinkan masing-masing pihak menggabungkan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki untuk menghasilkan teknologi yang lebih optimal. Kerja sama BRIN dan TINT juga menunjukkan bahwa pengembangan teknologi nuklir Indonesia mulai memiliki ruang kolaborasi yang lebih luas di tingkat regional.
TINT menilai kerja sama tersebut sebagai langkah strategis untuk mempercepat pengembangan teknologi nuklir di kawasan sekaligus membuka peluang kerja sama penelitian yang lebih besar di masa mendatang. Selain untuk kebutuhan medis, teknologi akselerator yang dikembangkan juga memiliki potensi pemanfaatan di berbagai sektor lain. Teknologi tersebut dapat diarahkan untuk iradiasi pangan, sterilisasi alat kesehatan, hingga kebutuhan industri.
Dengan pemanfaatan yang lebih luas, pengembangan teknologi cyclotron tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan, tetapi juga dapat mendukung berbagai kebutuhan masyarakat. Bagi Indonesia, pengembangan teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dan radioisotop dari luar negeri. Kemampuan memproduksi radioisotop secara mandiri dapat membantu memperkuat ketahanan teknologi kesehatan sekaligus meningkatkan kapasitas penelitian di dalam negeri.
Kolaborasi dengan Thailand juga membuka peluang bagi peneliti dan mahasiswa Indonesia untuk memperoleh pengalaman melalui pertukaran peneliti, penelitian bersama, serta pemanfaatan fasilitas riset. Dengan adanya kerja sama lintas negara, pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi nuklir diharapkan dapat berjalan lebih cepat.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan oleh lembaga riset Indonesia tidak hanya memiliki manfaat untuk kebutuhan domestik. Ketika kemampuan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan institusi dari negara lain, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu negara yang memiliki kapasitas riset dan teknologi di kawasan Asia Tenggara.
Meskipun masih berada dalam tahap pengembangan, teknologi 13 MeV DECY Cyclotron menjadi contoh bahwa riset di Indonesia dapat diarahkan menuju teknologi yang memiliki manfaat nyata. Pengembangan teknologi tersebut juga menunjukkan pentingnya investasi pada penelitian agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi sendiri.
Pada akhirnya, kerja sama BRIN dan Thailand dalam pengembangan teknologi cyclotron menjadi salah satu gambaran bagaimana riset nasional dapat berkembang melalui kolaborasi internasional. Dengan menggabungkan fasilitas, pengetahuan, dan sumber daya manusia dari kedua negara, teknologi nuklir diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi bidang kesehatan, industri, maupun penelitian di kawasan Asia Tenggara.