Di Balik Internet Global, Ada Jaringan Kabel Raksasa di Dasar Laut
Surabaya, Surabaya, 14 Maret 2026 — Ketika membayangkan internet global, banyak orang mungkin berpikir tentang satelit di orbit atau pusat data raksasa di daratan. Namun kenyataannya, sebagian besar lalu lintas internet dunia justru mengalir melalui kabel fiber optik yang tersembunyi di dasar laut. Infrastruktur yang jarang terlihat ini menjadi tulang punggung komunikasi digital global dan menghubungkan hampir seluruh aktivitas online manusia saat ini.
Diperkirakan sekitar 99% lalu lintas data internasional — mulai dari pesan instan, panggilan video, transaksi keuangan, hingga layanan cloud — dikirim melalui jaringan kabel bawah laut yang membentang ribuan kilometer di dasar samudra. Tanpa jaringan ini, internet modern seperti yang kita kenal saat ini hampir tidak mungkin berfungsi dengan cepat dan stabil.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft semakin aktif membangun serta berinvestasi dalam jaringan kabel bawah laut mereka sendiri. Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan cloud, kecerdasan buatan, dan berbagai platform digital mereka dapat mengirimkan data dengan kecepatan tinggi dan latensi yang rendah di seluruh dunia.
Salah satu contoh terbaru datang dari Amazon yang mengumumkan proyek kabel transatlantik bernama Fastnet. Kabel ini akan menghubungkan Amerika Serikat dengan Irlandia dan mampu mentransfer data dengan kapasitas lebih dari 320 terabit per detik. Kecepatan tersebut bahkan diklaim cukup untuk mengirimkan seluruh koleksi digital Library of Congress sebanyak tiga kali setiap detik atau menayangkan lebih dari 12 juta film HD secara bersamaan.
Sementara itu, perusahaan lain juga berlomba memperluas jaringan mereka. Microsoft pernah bekerja sama dengan Meta membangun kabel MAREA sepanjang 6.600 kilometer yang menghubungkan Amerika Serikat dan Eropa. Meta bahkan merencanakan proyek ambisius bernama Waterworth yang diproyeksikan memiliki panjang hingga 50.000 kilometer dan membentang melintasi lima benua.
Meski sangat vital, infrastruktur ini memiliki tantangan besar karena berada di lingkungan laut yang sulit diawasi. Kerusakan kabel dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti jangkar kapal, aktivitas penangkapan ikan, gempa bawah laut, hingga potensi sabotase. Ketika sebuah kabel utama terputus, dampaknya bisa langsung terasa pada konektivitas internet di berbagai negara sekaligus.
Karena itulah, banyak negara dan perusahaan teknologi mulai menganggap kabel bawah laut sebagai infrastruktur strategis yang harus dilindungi. Seiring meningkatnya kebutuhan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan komunikasi global, jaringan kabel di dasar laut ini kemungkinan akan terus berkembang dalam beberapa dekade mendatang.
Jadi, saat Anda mengirim pesan, menonton video, atau menyimpan data di cloud, ingatlah bahwa perjalanan data tersebut kemungkinan besar tidak melalui langit, melainkan melintasi ribuan kilometer kabel yang tersembunyi jauh di dasar lautan.