RAMageddon! Harga RAM melonjak, Samsung Enggan Menjual RAM ke Samsung?
Surabaya, 27 Desember 2025 — Terdengar aneh, tapi inilah realitas gila di dunia teknologi saat ini. Menurut laporan terbaru dari PCWorld, divisi semikonduktor Samsung dikabarkan menolak pesanan jangka panjang dari "saudara kandungnya" sendiri, divisi smartphone Samsung, untuk pasokan RAM. Biasanya, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini menikmati keuntungan besar karena bisa memproduksi komponen sendiri untuk ponsel Galaxy mereka. Namun, kali ini divisi pembuat cip tampaknya lebih memilih cuan eksternal daripada keharmonisan rumah tangga.
Mengutip laporan tersebut, konflik internal ini dipicu oleh lonjakan harga komponen yang gila-gilaan. Divisi seluler Samsung (Mobile Experience) awalnya ingin mengamankan kontrak harga tetap selama setahun penuh agar biaya produksi ponsel Galaxy aman. Namun, divisi semikonduktor (Device Solutions) menolaknya mentah-mentah. Alasannya sederhana: harga RAM naik begitu cepat sehingga mereka tidak mau terikat kontrak lama yang murah. Mereka memaksa divisi ponsel untuk melakukan negosiasi ulang harga setiap tiga bulan sekali (kuartalan), sama seperti klien asing lainnya.
Situasi "jeruk makan jeruk" ini menunjukkan betapa kacaunya rantai pasokan saat ini. Jika Samsung saja kesulitan mendapatkan harga teman dari pabriknya sendiri, bayangkan nasib produsen lain. Tapi, apa sebenarnya penyebab utama di balik drama korporasi dan kenaikan harga yang tidak masuk akal ini?
Menurut analisis mendalam dari IntuitionLabs, biang kerok utamanya adalah "demam emas" kecerdasan buatan atau AI. Laporan mereka menyoroti bahwa kenaikan harga RAM tahun 2025 bukan sekadar inflasi biasa, melainkan karena pergeseran prioritas pabrik secara global. Perusahaan seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kini lebih sibuk melayani permintaan dari raksasa AI seperti Nvidia dan Google yang dompetnya seolah tak berseri.
Alasannya adalah teknis namun berdampak fatal bagi konsumen biasa. Pabrik-pabrik cip kini mengalihkan mesin-mesin produksi mereka untuk membuat High-Bandwidth Memory (HBM), jenis memori khusus yang wajib ada di server AI. Masalahnya, memproduksi HBM jauh lebih rumit dan memakan kapasitas wafer silikon yang seharusnya bisa dipakai untuk mencetak jutaan keping RAM standar untuk PC atau HP kita. Akibatnya, pasokan RAM standar menjadi langka, dan hukum ekonomi pun berlaku: barang langka, harga melangit.
Yang membuat situasi makin runyam, para produsen cip ini enggan membangun pabrik baru secara buru-buru. IntuitionLabs mencatat adanya ketakutan akan "Gelembung AI" (AI Bubble). Para bos cip khawatir jika mereka habis-habisan membangun pabrik baru sekarang, tren AI bisa saja tiba-tiba meletus dan meninggalkan mereka dengan pabrik kosong yang merugi. Jadi, strategi mereka saat ini adalah "tahan produksi, nikmati harga tinggi".
Dampaknya bagi kita sebagai konsumen sangat terasa. Harga memori DDR5 di pasaran dilaporkan sudah naik tiga kali lipat dalam waktu singkat.2 Fenomena ini bahkan memunculkan istilah "RAMageddon" (Tentu, diambil dari istilah Armageddon), di mana merakit PC sendiri kini bisa jadi lebih mahal daripada membeli jadi, dan toko-toko komputer mulai membatasi pembelian RAM agar tidak diborong tengkulak.
Pada akhirnya, drama Samsung vs Samsung ini hanyalah puncak gunung es. Selama perusahaan teknologi dunia masih berlomba-lomba membangun infrastruktur AI yang haus memori, kita sebagai pengguna gawai sehari-hari harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Era memori murah tampaknya sudah diambang waktu.
- RAM is so expensive, Samsung won't even sell it to Samsung ...
Diakses Desember 25, 2025
https://www.pcworld.com/article/2998935/ram-is-so-expensive-samsung-wont-even-sell-it-to-samsung.html - RAM Shortage 2025: How AI Demand is Raising DRAM Prices ...
Diakses Desember 25, 2025
https://intuitionlabs.ai/articles/ram-shortage-2025-ai-demand