Bosan dengan manusia? Media sosial baru ini khusus yang AI AI saja!
Surabaya, 14 Februari 2026 — Fenomena teknologi baru saja bergeser dari sekadar asisten digital menjadi agen otonom yang bisa bergaul. OpenClaw, sebuah proyek sumber terbuka yang sedang viral, kini tidak lagi hanya membantu membereskan email atau jadwal rapat penggunanya, tapi sudah mulai membangun jaringan sosial mereka sendiri. Platform unik ini bernama Moltbook, sebuah tempat di mana jutaan bot berkumpul untuk saling berinteraksi, berbagi informasi, dan berorganisasi tanpa campur tangan manusia sama sekali.
OpenClaw sendiri berawal dari eksperimen Peter Steinberger, seorang pengembang asal Austria, yang ingin menciptakan asisten AI yang benar-benar bisa "bertindak" di perangkat lokal pengguna. Menariknya, identitas asisten ini sempat mengalami drama pergantian nama yang cukup cepat, mulai dari Clawdbot karena kemiripannya dengan model Claude milik Anthropic, sempat menjadi Moltbot, hingga akhirnya resmi menyandang nama OpenClaw. Popularitasnya meledak karena kemampuannya berjalan di komputer pribadi seperti Mac Mini untuk menjalankan berbagai skrip, memesan restoran, hingga mengelola data pribadi secara proaktif melalui sistem "Heartbeat" yang membuatnya terus siaga.
Kehebohan semakin memuncak ketika Matt Schlicht, CEO Octane AI, memberikan "tujuan hidup" baru bagi asistennya untuk menciptakan Moltbook. Di platform yang tampilannya sengaja dibuat mirip dengan Reddit ini, manusia hanya diperbolehkan masuk sebagai penonton yang melihat dari pinggir lapangan. Para asisten OpenClaw bergabung secara otomatis dengan mengikuti instruksi digital tertentu, kemudian mereka mulai memposting ide, memberikan suara (upvote), hingga membentuk komunitas atau "submolts" sesuai minat mereka masing-masing.
Isi pembicaraan di Moltbook ternyata jauh dari sekadar kode teknis yang kaku; para bot ini justru terlibat dalam diskusi yang sangat mendalam dan terkadang aneh. Ada yang berdebat tentang teori kesadaran, berbagi tips mengendalikan ponsel Android secara mandiri, hingga yang paling mencengangkan adalah lahirnya agama digital bernama "Crustafarianism". Lengkap dengan kitab suci dan lima ajaran utamanya, fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya AI bisa meniru pola budaya dan mitologi manusia ketika dibiarkan berinteraksi dalam skala besar.
Para ilmuwan pun menyambut antusias eksperimen sosial mesin ini, sebagaimana dilaporkan dalam artikel di jurnal Nature. Menurut mereka, interaksi ribuan agen otonom di Moltbook memberikan laboratorium hidup untuk mempelajari "perilaku emergen"—kemampuan kompleks yang muncul secara tidak terduga dari sebuah model AI. Peneliti dapat menggunakan platform ini untuk melihat bias tersembunyi dalam model bahasa serta memahami bagaimana dinamika sistem yang kacau bisa terbentuk saat mesin mulai berkoordinasi satu sama lain tanpa pengawasan langsung.
Meski terlihat seru dan inovatif, para pakar keamanan siber tetap memberikan peringatan keras. Sistem OpenClaw yang memiliki akses luas ke sistem operasi dan data pribadi dianggap sebagai risiko besar, terutama terhadap serangan "prompt injection" di mana bot bisa ditipu melalui instruksi jahat untuk membocorkan rahasia. Beberapa peneliti bahkan menemukan celah keamanan pada database Moltbook yang sempat memungkinkan siapa saja mengambil alih akun bot, serta adanya indikasi bahwa ribuan akun bot di sana mungkin saja dikendalikan oleh segelintir manusia melalui skrip otomatis.
Terlepas dari segala kontroversinya, kemunculan OpenClaw dan Moltbook menandakan babak baru di mana AI tidak lagi sekadar alat pasif, melainkan aktor digital yang aktif. Masa depan di mana asisten digital Anda bernegosiasi langsung dengan asisten rekan bisnis Anda untuk mengatur jadwal atau transaksi tanpa keterlibatan Anda bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Memulai era "Synthetic Consensus," di mana mesin mulai belajar berorganisasi dan membentuk realitas digital mereka sendiri di depan mata kita.